FeedBurner StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  


Follow - Monx007
Article Time Stamp: 26 October 2008, 16:10:14 GMT+7

Bukan Jalan Di Atas Bantal



Berkendara di malam hari memang lebih nyaman. Tak ada matahari - yang berarti tidak perlu kepanasan - udara pun lebih bersahabat. Adem. Sayangnya asumsi awal seperti itu tak sepenuhnya benar. Faktanya, berkendara malam justru jauh lebih berbahaya ketimbang siang hari.

Faktanya, manusia diciptakan untuk menjadi makhluk siang hari (daytime creature). Makanya, "Jam biologis manusia tidak bisa dibohongi," jelas Bintarto Agung, Presdir Indonesia Defensive Driving Center. Maksudnya, Anda bisa saja membekali diri dengan tidur sebelum berkendara malam hari, “Tapi kebutuhan badan manusia untuk tidur di saat bersamaan, tetap tak bisa ditolak.". Pantas siapa pun yang pemah berkendara pada malam hari, setidaknya mengalami keletihan lebih cepat. Juga ditambah fakta, penilaian orang akan penglihatan cenderung berubah drastis saat malam. Baik terhadap bentuk, warna, maupun jarak.

Setelah matahari tenggelam, satu-satunya sumber cahaya adalah lampu mobil dan lampu jalan. Risikonya jelas. Saat siang hari, mata mampu melihat nyaris tanpa batas. Memasuki malam hari, mata manusia normal hanya mampu melihat selama obyeknya terkena cahaya lampu mobil. Masalahnya, pancaran cahaya lampu mobil normal hanya mampu menerangi secara maksimal dalam jarak kurang dari 50 meter. Lalu apa hubungannya?

Reaksi manusia saat berkendara, memerlukan setidaknya 1,5 detik. Pada kecepatan 32 km/jam, mobil Anda akan bergerak sejauh 13 meter dalam 1,5 detik itu. Lalu pada kecepatan yang sama, jarak pengereman mobil Anda adalah 7,62 meter. Coba hitung pakai rumus jarak berhenti.

Jarak Reaksi + Jarak pengereman = Jarak Berhenti.

Jika jarak reaksi Anda pada kecepatan 32 km/jam adalah 13 meter dan jarak pengereman adalah 7,62 meter, maka mobil Anda baru akan berhenti setelah 20,62 meter. Hanya setengahnya dari jarak pandang anda yang kurang dari 50 meter tadi. Saved in time? Nanti dulu. Soalnya rumus ini berlaku kelipatan, bukan penambahan.

Seandainya Anda melaju 64 km/jam saja, sudah bisa dipastikan malapetaka yang akan terjadi. Dalam 1,5 detik (waktu reaksi), mobil Anda sudah meluncur bebas sejauh 26,8 meter. Begitu Anda menginjak rem, jarak pengeremannya pun sudah berkali lipat menjadi 30,7 meter. Gunakan rumus tadi. Mobil Anda baru berhenti setelah jarak 57,5 meter. Terlambat.

JIKA BERKENDARA MALAM TAK BISA DIHINDARI
1. Jangan sekali-sekali mengemudikan kendaraan setalah minum-minuman keras, atau obat-obatan yang dapat menimbulkan kantuk. Jika iya, Anda sama saja berniat membunuh orang.
2. Sebelum berkendara malam hari, cek dan bersihkan semua Iampu. Lampu dekat (low beam) dan lampu jauh (high beam) di lampu depan, lampu belakang, lampu rem dan lampu sein. Pastikan sorotan lampu Anda sudah benar, hingga tidak menyilaukan orang lain.
3. Perlukah kebut-kebutan? Mengingat fakta antara reaksi dan pengereman tadi, sebaiknya tak perlu memacu mobil pada kecepatan tinggi. Jaga jarak aman. Lebih sulit menebak kecepatan mobil lain saat malam daripada siang, kan?
4. Selalu gunakan lampu dekat (low beam) jika ada mobil di depan Anda. Jlka Anda,menyalakan lampu jauh (high beam), kemungkinan besar mobil depan akan terganggu atau malah kecelakaan.
5. Heran mengapa pemburu hampir selalu berburu malam dan menggunakan lampu sorot? Pasalnya mamalia punya insting untuk menatap sumber cahaya daripada menghindari. Ya, manusia termasuk mamalia. Ini salah satu alasan, mengapa kita mudah sekali terpengaruh cahaya dari mobil berlawanan. Makanya hindari menatap langsung sumber cahaya, seterang apapun itu.
6. Jika ada mobil dari arah berlawanan menggunakan lampu jauh, jangan sesekali ditatap. Mata manusia memerlukan waktu sakitar 5 detik untuk beradaptasi dari terang ke gelap. Sebaiknya pusatkan mata Anda pada garis pembatas jalan atau ujung kiri jalan.
7. Saat perjalanan jarak jauh di malam hari, jangan menyiksa diri dengan berkendara terus menerus. Berhenti beberapa waktu sekali untuk memulihkan stamina dan konsentrasi, sambil menghirup kopi dan cemilan ringan.
8. Jika mobil bermasalah, langsung menepi sejauh mungkin dan nyalakan lampu hazard. Setelah berhenti, nyalakan lampu kabin dan letakkan segitiga pengaman sekitar 100 meter di belakang mobil Anda.
9. Mengemudi saat masa transisi (fajar atau senja) lebih berbahaya, karena mata Anda dipaksa terus-terusan beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan dan cahaya yang tidak berketerusan. Segera nyalakan lampu mobil. Ini mungkin tak banyak membantu Anda melihat jalan, tapi sangat membantu pengemudi lain melihat mobil Anda.


Sumber:
Arya A. Sadhana
Majalah AutoBild, Tanggal 2-5 Agustus 2003 Edisi 7 – Suplemen

Article Source: Monx Digital Library

Copyrighted@ Monx Digital Library, otherwise stated
Use of our service is protected by our Terms of Use



 Back To Previous Page ...  



 

 

 

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis