FeedBurner StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  


Follow - Monx007
Article Time Stamp: 26 November 2006, 13:30:26 GMT+7

Warung Pak Cipto


OLEH EDNA C PATTISINA DAN DAHONO FITRIANTO



Tadinya kami pikir tidak akan ada yang istimewa lagi dari makanan bernama sate. Apalagi dari warung sate kaki lima. Seorang kawan sampai berteori, "Sate di Indonesia itu ya paling-paling variannya cuma kambing, ayam, atau sapi. Yang membedakan cuma nama tempat dan nama orang yang bikin," katanya genit.

Diawali dengan rasa tidak penasaran, kami tiba di pojok Jalan Kemasan, Kotagede, Yogyakarta, pada sebuah malam yang hujan di bulan Desember. Spanduk bertuliskan "Warung Sate Sapi Pak Cipto" tergantung di dinding bilik. Ada juga nomor telepon tertera di sana kalau-kalau ada yang ingin memesan dalam jumlah banyak, sebuah tanda "sadar promosi" dari Cipto, warga asli Kotagede.

Tidak terlalu banyak orang di tempat yang menurut promosi Valens Riyadi, teman kami dari fotografer.net, termasuk tempat makan andalan Kotagede. Beberapa meja dan bangku kayu di warung berdinding anyaman bambu itu hanya diisi tiga pengunjung lain. "Di sini ada yang namanya sate kocor," ceritanya

Kocor - konon berasal dari bumbunya yang mengocor alias mengucur gara-gara encer. Bumbu sate ini memang bukan bumbu kacang biasa. Kekhasan ini yang membuat kami lalu terpacu mencoba, selain juga karena waktu sudah pukul 22:00 dan tidak banyak tempat alternatif untuk memuaskan perut yang sudah menderita, "Kapan lagi kita makan sate pakai kuah", kata kawan yang genit tadi.

Sate kocor, menurut pemiliknya, Cipto, adalah 'adik' dari sate karang (kali ini teman tadi tersenyum karena teorinya terbukti, berhubung nama Karang berasal dari nama sebuah lapangan di Kotagede). Sate tersebut tidak seperti lazimnya sate biasa yang berupa potongan-potongan daging yang ditusuk bambu atau lidi.

Sama seperti sate karang yang sudah terkenal terlebih dulu, potongan-potongan daging sapi sate kocor dilepaskan dan dimakan dengan kuah berwarna coklat kehitaman. Kuahnya berasa pedas-asam mirip kuah empek-empek palembang atau tahu gejrot kbas Cirebon. Rasa asam-pedas ini dipadukan dengan potongan bawang merah mentah dan cabai.

Ada dua menu utama di Warung ini. Pembeli boleh memilih sate kocor atau sate bumbu kacang sebagai temannya tersedia lontong sayur dan lontong bumbu kacang.

Lontong sayur ini terdiri dari lontong yang dipotong-potong dan dimakan dengan kuah santan lodeh plus irisan tempe kecil-kecil. Dari rasanya yang unik. ketahuan bahwa di dalam kuah tersebut dibumbui aneka rempah-rrmpah, seperti laos, terasi dan kencur.

Resep 30 Tahun

Dimakan panas-panas ditengah hujan gerimis, lontong sayur yang porsinya memang kecil ini membuat banyak orang dengan sukarela melahap dua porsi. "Enak ya ternyata", kata teman yang lain sambil sibuk memotret sate yang sedang dibakar dan minta tambah satu porsi lagi.

Rupanya resep yang sudah berusia 30 tahun ini manjur juga membuat lidah berdecap-decap. Perkawinan sate sapi yang empuk dengan kuah lodeh yang membuat malam yang dingin itu terasa lebih menyenangkan gara-gara perut yang kenyang dan lidah yang dimanjakan. Kalaupun perut masih minta tambah isi, tempe dan tahu bacem bisa menjadi lauk tambahan.

Inilah yang membuat makan makanan di tempat aslinya selalu memiliki sensasi tersendiri. Bahkan, udara dan asap bakaran satenya pun menunjang suasana. Dengan kondisi warung pinggir jalan yang sederhana tersedia juga tempat lesehan bagi yang berminat semuanya jadi nikmat.

Menurut Cipto, sate kocor miliknya ini konon dulu dibawa dengan pikulan di jalan-jalan kecil Kotagede. Belakangan, maksudnya lebih dari 20 tahun terakhir ini, barulah gerobak dorongnya diparkir di Jalan Kemasan.

Menurut Cipto, daging yang diambil dari punggung sapi bagian pinggir itu direndam dulu selama lebih kurang 20 menit di dalam bumbu.

Apa bumbunya? "Rahasia...." kata ito, asisten Cipto, yang malam itu sibuk mengatur arang batok kelapa yang katanya lebih cepat panas dan membuat sate lebih wangi saat dibakar.

Kuah lontong sayur gurih tidak hanya karena bumbu lodeh yang dimasukkan. Untuk menambah gurih, juga dimasukkan potongan otot yang kalau jadi sate akan keras, ikut dimasukkan ke dalam kuah. Sebuah resep orisinal ala Kotagede yang menjadikannya tidak kalah dan berbagai ragam sate se-Nusantara. seperti sate matang dari Aceh, sate ponorogo, hingga sate padang.

Kebanggaan Cipto

Cipto Harsono (63), Pemilik warung sate, telah berjualan sejak tahun 1958. Saat itu ia sudah ikut ayahnya yang berjualan sate dengan pikulan. Usaha Cipto sempat terhenti tahun 1965. "Karena keadaan tidak menyenangkan, jadi saya libur sebentar,- katanya.

Ia kembali berdagang sate tahun 1970. Saat itu bersama kakaknya, Prapto, ia terkenal gara-gara sering mangkal di Lapangan Karang. Cerita Cipto, saat itu sebenarnya kawasan tersebut masih sangat sepi. Selain tidak ada listrik, juga belum ada perumahan yang berdiri. Namun, untungnya kalau sedang ada pertandingan sepak bola wilayah di lapangan tersebut, penjualan satenya jadi meningkat. Sejak itu nama Sate Karang menjadi terkenal.

Cipto dan Prapto mendapat resep sate tersebut turun-menurun dari ayah mereka, Karyo. Keduanya yang melanjutkan usaha ayahnya tersebut, sementara dua orang yang lain memilih jalur lain. Menurut Cipto, sebenarnya resep ini diperoleh Karyo dari daerah asalnya di Kalasan. Rahasianya, daging punggung yang digunakan untuk sate diambil dulu bagian ototnya, jadinya sate tidak alot. "Bapak lalu mengembangkannya lagi," katanya menjelaskan.

Terbiasa berjualan dari pukul 16:00 hingga 02:00 dini hari, Cipto sejak tahun 1980-an memilih mangkal di Jalan Kemasan. Sementara yang kini berjualan di Lapangan Karang adalah kakaknya.

Kini, gara-gara sakit jantung, ia memilih untuk tidak turun langsung. Sudah ada beberapa pegawai yang ia pekerjakan di warung satenya. Namun, ia sudah mematok kebanggaan. "Enam orang anak saya sudah saya bikinkan rumah semua dari hasil berjualan sate. Mereka juga semua berpendidikan dan sudah bekerja, tinggal yang bungsu yang masih kuliah," katanya bangga.

Menuju Warung Pak Cipto

Untuk mencapai Warung Sate Pak Cipto, jalan yang ditempuh kira-kira sepanjang 10 kilometer dari Kantor Pos Besar Yogyakarta. Apabila hendak naik bus kota, gunakan Bus Kota Jalur 4 dari Pasar Beringharjo. Dengan bus ini, penumpang dapat turun langsung di pertigaan Basen. Perjalanan kalau sama sekali tidak macet memakan waktu paling cepat setengah jam.

Apabila menggunakan mobil pribadi, dari Kantor Pos Besar Yogyakarta, perjalanan dilakukan ke arah timur lewat Jalan Sultan Agung. Setelah masuk Jalan Kusumanegara. di perempatan Gedongkuning, belok ke kanan atau ke arah selatan.

Dari pertigaan Basen, jalan kaki sepanjang 50 km ke arah selatan. Warung Sate Pak Cipto terletak tepat di depan BPD DI Yogyakarta.




Sumber: Kompas, 12 Pebruari 2006



Article Source: Monx Digital Library

Copyrighted@ Monx Digital Library, otherwise stated
Use of our service is protected by our Terms of Use



 Back To Previous Page ...  



 

 

 

AQWorlds Banner