StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  


Follow - Monx007
Article Time Stamp: 29 October 2008, 00:02:44 GMT+7

Rem: Mengurangi Kecepatan Dengan Aman



Melakukan deselerasi memang terlihat sederhana. Tinggal injak pedal rem dan mobi berhenti. Tapi tahukah Anda rem juga bisa berbahaya bila salah penggunaannya? Seperti halnya mengemudi, melakukan pengereman pun ada triknya agar tetap safe.

Hal yang perlu diketahui pertama-tama adalah jarak pengereman. Setiap kendaraan butuh jarak berbeda-beda untuk berhenti. Ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi selisih jarak itu, baik eksternal maupun internal.

Pengaruh internal antara lain bobot kendaraan, kondisi kendaraan, kecepatan, profil dan kompon ban, sistem rem dan teknik pengereman. Sedang faktor eksternal yang mempengaruhi hal ini misalnya kondisi jalan atau cuaca.

Ada beberapa teknik pengereman yang dikenal yaitu normal braking (ease and squeeze), threshold dan pulse braking. Lalu pengereman seperti apa yang harus dilakukan saat dibutuhkan pada kondisi mendesak? "Terpenting adalah tidak panik. Karena jika panik, keputusan atau tindakan yang diambil tidak akurat," jelas Bintarto Agung, Instruktur IDDG.

Terlepas dari kecepatan reaksi pengemudi, beberapa faktor di atas harus Anda ketahui agar bisa mengerem lebih aman. Nah, simak teknik pengereman berikut untuk menghadapi beberapa kondisi jalan. Namun harus diingat, selalu dahulukan safety saat berkendara karena itu merupakan hal yang terbaik.


KETAHUI SISTEM REM
Dengan mengetahui jenis dan sistem rem yang dipakai di kendaraan, Anda bisa membedakan teknik mengerem. Umumnya, mobil dilengkapi rem cakram di depan dan tromol di belakang. Tapi ada pula yang dilengkapi dengan rem cakram di tiap roda.

Selain itu perlu juga diketahui apakah sistem rem juga mengaplikasi Anti Lock Braking System (ABS). Menandainya mudah saja, umumnya mobil yang dilengkapi ABS memiliki indikator di panel instrumen.

Teknik pengereman pada kedua sistem itu jelas berbeda. Dalam keadaan mendesak, menginjak penuh pedal rem pada mobil ber-ABS, tentu bukan masalah. Karena ban tidak mengunci dan mobil masih bisa diarahkan. Terutama pada permukaan jalan basah, sistem ini dapat terus memberi kontrol pengendalian pada pengemudi.

Hal sebaliknya terjadi pada mobil tanpa ABS. Roda bisa langsung mengunci dan mobil hanya bergerak lurus. Di sini, mengerem yang dilakukan adalah mendekati cara kerja rem ABS. Yakni menginjak pedal rem dengan cara memompa (pulse braking) dengan tekanan dan frekuensi
tetap. Sehingga pengendalian masih bisa dilakukan.


DI TIKUNGAN
Umum terjadi, saat menghadapi tikungan dan kecepatan mobil masih tinggi, pengereman dilakukan sambil menikung. Padahal, jika mengerem sambil menikung daya cengkeram atau traksi ban yang dibutuhkan justru berkurang drastis.

Pasalnya, dengan kecepatan menikung melebihi kemampuan ban plus usaha mengerem, kerja ban untuk mendapat traksi makin berat. Hasilnya, mobil bergeser karena ban terus kehilangan traksi.

Jadi sebisa mungkin mengerem kuat tanpa ban mengunci sambil menurunkan gigi sebelum setir mulai dibelokkan. Artinya posisi mobil masih lurus. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan traksi ban maksimal sebelum mulai menikung.


KONDISI JALAN
MENGHADAPI halangan di jalan seperti polisi tidur, bergelombang atau berlubang perlu cara tersendiri. Mirip seperti menikung, biasanya pengereman dilakukan terus hingga melintasi obyek itu.

Semisal melintasi polisi tidur sambil menginjak rem. Sebelum roda melindas polisi tidur, beban yang diterima rem normal. Artinya, rem menahan beban kendaraan plus beban bawaan serta berpindahnya titik berat mobil ke depan. Begitu pula yang terjadi pada sokbreker.

Namun begitu melintasi, maka beban jadi berlipat. Karena benturan pada roda, membuat tekanan pada rem makin kuat dan sokbreker butuh meredam lebih cepat. Serta penetrasi pun datang dari 2 arah, atas dan bawah. Bisa jadi melebihi kemampuannya.

Jika perilaku ini terus dilakukan, maka kerusakan komponen itu tinggal menunggu waktu. Seperti kala rem diinjak terasa bergetar karena permukaannya tidak rata dan sokbreker rusak atau mati.

Mengatasinya, rem kuat tanpa ban mengunci hingga mendekati obyek. Setelah kecepatan berkurang drastis, lepas rem dan biarkan mobil bergerak melintasi halangan itu. Rem tidak menerima beban apa pun. Sedang gerakan peredaman sokbreker dimulai dari posisi normal, karena posisi mobil tidak menukik. Sama seperti yang dilakukan saat uji kualitas produksi di pabrik.

Sementara di jalan licin seperti basah atau berpasir, pengereman dilakukan dengan cara memompa pedal rem. Sehingga traksi ban yang sudah minim, diprioritaskan untuk pengendalian. Pada kondisi jalan itu, berkurangnya kecepatan lebih kecil dibanding jalan biasa jika hanya dengan rem. Antisipasinya, manfaatkan engine brake dengan memindah gigi ke posisi lebih rendah.


Sumber:
Ary Damarjati
Majalah AutoBild, Tanggal 8-21 Nopember 2003 Edisi 14

Article Source: Monx Digital Library

Copyrighted@ Monx Digital Library, otherwise stated
Use of our service is protected by our Terms of Use



 Back To Previous Page ...  



 

 

 

AQWorlds Nulgath Secret Walkthrough